OJK Buka Suara Soal Merger Bank Nobu-MNC, Aksi Saham Tunjukkan Arah Berbeda? Rencana besar penyatuan usaha atau merger antara PT Bank Nobu Tbk. (NOBU) milik Grup Lippo dan PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) milik Grup MNC kembali menjadi sorotan utama di industri keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya buka suara mengenai status terkini rencana konsolidasi tersebut. Namun, pernyataan regulator tampak kontras dengan manuver-manuver korporasi signifikan yang justru mengisyaratkan kedua bank kini berjalan ke arah yang berlawanan.
Kabar ini mencuat setelah PT MNC Kapital Indonesia Tbk. (BCAP) secara masif menambah kepemilikan sahamnya di Bank MNC. Langkah ini memicu spekulasi bahwa rencana merger yang digadang-gadang sebagai salah satu pilar konsolidasi perbankan di Indonesia kini berada di ujung tanduk, bahkan berpotensi batal. Lantas, bagaimana OJK melihat situasi ini, dan fakta apa yang sebenarnya terjadi di antara para pemegang saham?
Table Of Contents
OJK Buka Suara Soal Merger Bank

Di tengah simpang siur kabar, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memberikan keterangan resmi. Menurutnya, OJK hingga saat ini belum menerima pengajuan pembatalan resmi terkait rencana merger Bank Nobu dan Bank MNC.
“Belum, [rencana merger] sedang proses. Belum ada approval dari kita (OJK). Sedang kita finalisasi sebetulnya bagaimana rencana ini,” ujar Dian saat ditemui di Jakarta pada Jumat (6/9/2025).
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dari sisi regulator, pintu untuk merger secara teknis masih terbuka. OJK masih menunggu sikap dan proposal final yang akan diajukan oleh manajemen kedua bank.
Sikap OJK yang berhati-hati ini dapat dipahami, mengingat regulator memiliki kepentingan besar untuk mendorong konsolidasi demi menciptakan struktur perbankan yang lebih kuat dan efisien di Indonesia. Namun, apa yang terjadi di level pemegang saham menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.
BACA JUGA: IHSG Hari Ini 3 September 2025: Tembus 7.800, Cek Saham Potensial
Konsolidasi Internal vs. Pelepasan Aset MNC dan Lippo
Sinyal paling kuat yang menunjukkan potensi berakhirnya saga merger ini datang dari aktivitas transaksi saham yang dilakukan oleh kedua grup pengendali. Alih-alih menyatukan kepemilikan, Grup MNC dan Grup Lippo justru melakukan langkah yang saling menjauh.
Pada 26 Agustus 2025, PT MNC Kapital Indonesia Tbk. (BCAP) sebagai induk usaha Bank MNC, dilaporkan membeli sebanyak 4,4 miliar lembar saham BABP. Aksi korporasi ini setara dengan 9,99% dari total saham beredar, yang secara signifikan memperkuat cengkeraman BCAP atas Bank MNC menjadi 48,83%. Langkah ini jelas menunjukkan komitmen Grup MNC untuk memperkokoh kendalinya atas Bank MNC sebagai entitas yang berdiri sendiri.
Sebaliknya, langkah kontras diambil oleh Grup Lippo. PT Prima Cakrawala Sentosa, entitas yang terafiliasi dengan Grup Lippo, justru melepas seluruh kepemilikan sahamnya di Bank MNC yang sebelumnya mencapai 10%. Menariknya, pada saat yang bersamaan, entitas ini justru menambah pundi-pundi sahamnya di Bank Nobu (NOBU) dengan mengakuisisi 747,8 juta saham yang sebelumnya dimiliki oleh PT MNC Land Tbk. (KPIG).
Jika merujuk pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), manuver silang ini sangat kentara. Nama Prima Cakrawala kini telah lenyap dari daftar pemegang saham BABP, namun posisinya semakin kuat di NOBU. Fenomena ini dapat diartikan sebagai “pembersihan” kepemilikan silang sebagai langkah awal untuk membatalkan rencana merger secara de facto, meskipun belum diumumkan secara de jure.
BACA JUGA: Kredit UMKM BNI: Strategi Inklusif & Target Baru OJK
Perubahan Peta Kepemilikan NOBU
Situasi menjadi semakin kompleks dan menarik dengan hadirnya investor strategis baru di Bank Nobu. Hanwha Life Insurance Co., Ltd., salah satu perusahaan asuransi jiwa terbesar dari Korea Selatan, secara resmi telah masuk sebagai pemegang saham pengendali baru di NOBU.
Hanwha mengakuisisi 2,99 miliar lembar saham, setara dengan 40% dari total modal ditempatkan dan disetor Bank Nobu. Masuknya investor raksasa dengan reputasi global ini tidak bisa dianggap remeh. Hal ini dipastikan akan mengubah peta jalan dan strategi jangka panjang Bank Nobu secara fundamental.
Dengan adanya Hanwha Life sebagai pengendali, Bank Nobu kini memiliki akses ke jaringan global, teknologi finansial yang lebih canggih, serta permodalan yang jauh lebih solid. Arah pengembangan bisnis Bank Nobu kemungkinan besar akan diselaraskan dengan visi strategis Hanwha Group, yang mungkin tidak lagi sejalan dengan rencana merger bersama Bank MNC. Kehadiran Hanwha menjadi faktor penentu yang membuat skenario merger menjadi semakin tidak relevan bagi masa depan Bank Nobu.
BACA JUGA: OJK Kinerja Perbankan 2025 Aman Walau Kredit Melambat
Babak Baru Dimulai untuk NOBU dan BABP

Melihat rangkaian peristiwa ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun OJK menyatakan proses masih berjalan, realitas di pasar menunjukkan sebaliknya. Aksi korporasi yang dilakukan oleh Grup MNC dan Grup Lippo, ditambah dengan masuknya Hanwha Life, adalah sinyal terkuat bahwa rencana merger telah ditinggalkan oleh para pihak terkait.
Bagi Bank MNC, konsolidasi kepemilikan oleh BCAP adalah langkah untuk memastikan stabilitas dan kontrol penuh dalam menentukan arah bisnis ke depan. Grup MNC tampaknya lebih memilih untuk mengembangkan Bank MNC secara organik di bawah ekosistem media dan jasa keuangan miliknya.
Bagi Bank Nobu, ini adalah sebuah babak baru yang sangat menjanjikan. Dengan dukungan strategis dan finansial dari Hanwha Life, Bank Nobu memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi bank digital atau bank dengan layanan keuangan yang lebih inovatif, menyasar ceruk pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun di kancah regional.
Kegagalan merger ini mungkin menjadi preseden bagi rencana konsolidasi perbankan lain di Indonesia, menunjukkan bahwa sinergi dan kesepakatan di level pemegang saham adalah kunci utama yang tidak bisa dipaksakan, sekalipun ada dorongan kuat dari regulator.
Penutup
Pernyataan resmi OJK yang menyebutkan proses masih dalam tahap finalisasi bertolak belakang dengan manuver strategis para pemegang sahamnya. Aksi Grup MNC yang memperkuat kepemilikan di Bank MNC dan langkah Grup Lippo yang melepas saham di entitas yang sama sambil menyambut Hanwha Life Insurance di Bank Nobu, secara praktis telah mengakhiri wacana penyatuan kedua bank.
Meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai pembatalan, langkah-langkah korporasi ini berbicara lebih nyaring daripada kata-kata. Publik kini menantikan pengumuman resmi yang akan mengakhiri spekulasi, sembari mengamati arah baru yang akan ditempuh oleh Bank Nobu bersama mitra strategisnya dari Korea Selatan dan bagaimana Bank MNC akan memperkuat posisinya secara mandiri di tengah ketatnya persaingan industri perbankan Indonesia.










