RINGKASAN
- Pemicu Utama: Harga minyak Brent dan WTI jatuh ke level terendah 5 bulan akibat eskalasi perang dagang antara AS dan China, yang mengancam perlambatan ekonomi global dan penurunan permintaan energi.
- Tekanan Ganda: Selain permintaan yang lesu, pasar juga tertekan oleh proyeksi surplus pasokan global dari IEA, yang memperkirakan kelebihan hingga 4 juta barel per hari pada tahun mendatang akibat peningkatan produksi OPEC+.
- Harapan dari Bank Sentral: Pelaku pasar berharap The Federal Reserve akan memangkas suku bunga untuk menstimulasi ekonomi, sebuah langkah yang dapat menopang permintaan minyak di tengah ketidakpastian global.
- Fokus Jangka Pendek: Investor menantikan rilis data persediaan minyak mentah mingguan AS, yang diperkirakan akan menunjukkan kenaikan, memperkuat sinyal melimpahnya pasokan di pasar.
Jakarta, 16 Oktober 2025 – Minyak Dunia Anjlok 5 Bulan, Dagang AS-China Memanas. Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam lima bulan terakhir, tertekan oleh dua sentimen negatif utama eskalasi tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta proyeksi surplus pasokan global yang membayangi pasar. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian signifikan bagi para pelaku bisnis dan pengusaha di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Mengutip data pasar pada penutupan perdagangan Kamis (16/10/2025), harga minyak mentah acuan global, Brent, tercatat turun 48 sen atau 0,8% menjadi $61,91 per barel.
Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga melemah 43 sen atau 0,7% dan ditutup pada level $58,27 per barel. Kedua harga acuan ini secara konsisten mencatatkan level penutupan terendah sejak 7 Mei 2025, menandakan sentimen bearish yang kuat di pasar.
Table Of Contents
Pemicu Utama Minyak Dunia Anjlok 5 Bulan, AS dan China
Akar dari kejatuhan harga minyak saat ini adalah kembali memanasnya perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia. AS dan China, yang merupakan konsumen minyak terbesar di dunia, kembali terlibat dalam aksi saling balas yang berpotensi mengganggu arus perdagangan global dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Pekan lalu, China mengumumkan rencana untuk memperketat ekspor mineral tanah jarang (rare earth) yang krusial bagi industri teknologi tinggi AS. Langkah ini dibalas oleh ancaman Presiden AS yang akan menaikkan tarif impor barang-barang China hingga 100% serta memperketat pembatasan ekspor perangkat lunak mulai 1 November 2025.
Bagi pasar minyak, dampaknya sangat jelas: ketika aktivitas ekonomi dan industri melambat akibat perang dagang, permintaan terhadap energi terutama minyak akan menurun drastis. Bank of America bahkan mengeluarkan peringatan bahwa harga Brent berisiko jatuh di bawah $50 per barel jika ketegangan ini tidak mereda dan produksi OPEC+ terus meningkat.
Meskipun Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Washington tidak berniat memperuncing konflik dan membuka peluang pertemuan antara kedua pemimpin negara, pasar tetap merespons dengan pesimisme. Risiko penurunan permintaan minyak akibat perlambatan ekonomi global menjadi sentimen yang paling ditakuti investor saat ini.
Surplus Pasokan Global Menambah Tekanan di Pasar Minyak
Selain dari sisi permintaan, tekanan juga datang dari sisi pasokan. Laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pasar minyak global dapat mengalami surplus pasokan hingga 4 juta barel per hari pada tahun 2026.
Angka ini lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, didorong oleh peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan aliansinya, termasuk Rusia) serta lemahnya prospek pertumbuhan permintaan.
Di sisi lain, faktor geopolitik lainnya turut membayangi. Inggris pada hari Rabu (15/10/2025) memberlakukan sanksi baru terhadap dua raksasa minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, beserta 51 kapal tanker “shadow fleet”. Langkah ini bertujuan menekan pendapatan energi Rusia, namun juga berpotensi mengganggu stabilitas pasokan di pasar global.
Sinyal Ekonomi dan Kebijakan Moneter Jadi Harapan Pasar
Di tengah sentimen negatif, para pelaku pasar kini menaruh harapan pada kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral. Gubernur The Federal Reserve, Stephen Miran, mengakui bahwa meningkatnya ketegangan dagang menimbulkan “risiko penurunan signifikan” terhadap prospek ekonomi global.
Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed mungkin akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan dolar AS, membuat minyak yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi mendongkrak permintaan.
Dari China, data ekonomi menunjukkan tekanan deflasi yang masih membayangi, dengan lesunya sektor properti yang menambah beban prospek ekonomi negara tersebut. Sementara itu, data awal penjualan ritel AS menunjukkan kemungkinan adanya kenaikan, memberikan sedikit sinyal positif di tengah suramnya outlook global.
Proyeksi dan Sentimen Pasar
Perhatian pasar kini tertuju pada data persediaan minyak mingguan AS yang akan dirilis oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Rilis data ini mundur satu hari karena libur nasional Columbus Day.
Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS akan naik tipis sekitar 0,3 juta barel. Jika terbukti benar, ini akan menandai kenaikan stok selama tiga minggu berturut-turut, sebuah sinyal bahwa pasokan domestik AS melimpah sementara permintaan belum cukup kuat untuk menyerapnya.
Penutup
Kejatuhan harga minyak ke level terendah lima bulan ini merupakan cerminan dari “badai sempurna” yang melanda pasar energi. Kombinasi dari perang dagang AS-China yang menekan permintaan, proyeksi surplus pasokan dari IEA dan OPEC+, serta sinyal perlambatan ekonomi global telah menciptakan sentimen bearish yang kuat.
Bagi para pembisnis dan pengusaha di Indonesia, fluktuasi harga ini perlu dicermati secara saksama karena akan berdampak langsung pada biaya operasional, logistik, dan inflasi.
Arah pasar minyak dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada langkah diplomatik yang diambil oleh Washington dan Beijing, serta kebijakan produksi yang akan diputuskan oleh OPEC+ dalam pertemuan berikutnya.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.









