RINGKASAN
- Rencana Akuisisi Strategis: Tjokro Group, melalui PT PIMSF, secara resmi mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 45,45% saham PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO), menandai langkah ekspansi grup ke sektor teknologi geospasial yang prospektif.
- Divestasi Saham Pendiri: Direktur Utama GPSO, Karnadi Margaka, mulai menjual kepemilikan sahamnya secara bertahap. Pada 14 Oktober 2025, ia menjual 170 juta lembar saham, mengurangi porsinya dari 52,49% menjadi 27%, dan tidak akan lagi menjadi pemegang saham pengendali.
- Kewajiban Tender Offer: Setelah akuisisi selesai, Tjokro Group sebagai pengendali baru diwajibkan oleh regulasi OJK untuk melakukan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer) kepada seluruh pemegang saham publik GPSO lainnya.
- Potensi Transformasi Bisnis: Aksi korporasi ini membuka jalan bagi GPSO untuk bersinergi dengan ekosistem bisnis Tjokro Group, berpotensi mendapatkan suntikan modal baru, dan mempercepat ekspansi dalam industri pemetaan dan analisis data spasial.
Jakarta, 16 Oktober 2025 – Tjokro Group Akuisisi GPSO, Babak Baru Geoprima Dimulai. Dunia pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh aksi korporasi signifikan pada 16 Oktober 2025. Konglomerasi bisnis, Tjokro Group, secara resmi mengumumkan niatnya untuk mengambil alih kendali emiten teknologi geospasial, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO). Langkah strategis ini diikuti langsung oleh pendiri sekaligus Direktur Utama GPSO, Karnadi Margaka, yang mulai melepaskan saham kepemilikannya.
Lantas, apa sebetulnya yang terjadi? Bagaimana dampak akuisisi ini bagi masa depan bisnis GPSO dan nasib investor publik? Mari kita bedah secara tuntas.
Table Of Contents
Tjokro Group Masuk Sektor Teknologi Geospasial
Melalui salah satu entitas bisnisnya, PT PIMSF, Tjokro Group mengumumkan rencana pengambilalihan saham pengendali GPSO pada 10 Oktober 2025. Rencana ini menargetkan akuisisi sekitar 45,45% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam GPSO, yang saat ini mayoritas dimiliki oleh Karnadi Margaka.
Direktur PT PIMSF, Adi Sulaiman, menyatakan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi jangka panjang grup untuk memperkuat portofolio investasi dan melakukan ekspansi. “Rencana akuisisi ini merupakan bagian dari strategi pengembangan Tjokro Group dan afiliasinya, sekaligus memperluas keterlibatan kami di sektor teknologi dan jasa geospasial,” jelas Adi.
Akuisisi ini menjadi sinyal kuat bahwa Tjokro Group melihat potensi besar dalam bisnis yang dijalankan GPSO. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemetaan, survei udara, dan solusi data berbasis sistem informasi geografis (GIS), GPSO memegang peranan penting dalam mendukung proyek-proyek vital di sektor infrastruktur, pertambangan, dan perkebunan nasional.
Bos Geoprima (GPSO) Mulai Jual Sahamnya, Era Baru Dimulai
Seiring dengan pengumuman rencana akuisisi, sang nakhoda GPSO, Karnadi Margaka, tidak menunggu lama untuk melakukan aksi jual. Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 15 Oktober 2025, Karnadi telah melakukan transaksi penjualan signifikan.
Pada 14 Oktober 2025, ia menjual sebanyak 170 juta lembar saham GPSO di harga Rp59 per saham. Transaksi ini secara drastis mengurangi kepemilikan langsungnya dari 350 juta saham (setara 52,49%) menjadi hanya 180 juta saham (sekitar 27%). Dengan porsi di bawah 50%, statusnya sebagai pemegang saham pengendali (PSP) resmi berakhir setelah transaksi ini tuntas.
“Transaksi ini merupakan bagian dari rencana divestasi saham pendiri yang telah kami siapkan secara bertahap,” ungkap Karnadi dalam keterangan resminya, Kamis (16/10/2025).
Meskipun melepas status pengendali, Karnadi menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung keberlanjutan dan pengembangan bisnis GPSO ke depan. Langkah ini menandai akhir sebuah era kepemimpinan pendiri dan membuka lembaran baru bagi GPSO di bawah kendali manajemen yang berbeda.
Akuisisi GPSO Tender Wajib dan Potensi Sinergi
Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 9/POJK.04/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, setiap entitas yang menjadi pengendali baru wajib melakukan penawaran tender (tender offer) atas sisa saham yang dimiliki oleh investor publik.
Apa artinya ini bagi investor ritel?
1. Kesempatan Menjual Saham
Investor publik akan mendapatkan penawaran untuk menjual saham GPSO mereka kepada Tjokro Group di harga yang akan ditentukan sesuai mekanisme peraturan. Ini memberikan opsi likuiditas bagi yang ingin merealisasikan keuntungan atau keluar dari posisi.
2. Transparansi Harga
Harga penawaran tender wajib biasanya didasarkan pada rata-rata harga tertinggi perdagangan harian di Bursa selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman akuisisi.
3. Prospek Jangka Panjang
Bagi investor yang memilih untuk tidak menjual, mereka akan menjadi bagian dari perjalanan GPSO di bawah kendali Tjokro Group. Potensi sinergi antara keahlian teknologi GPSO dan jaringan bisnis luas Tjokro Group bisa menjadi katalis positif untuk pertumbuhan perusahaan di masa depan.
Masuknya Tjokro Group sebagai pengendali baru diprediksi akan membawa angin segar bagi GPSO. Akses terhadap pendanaan yang lebih kuat, proyek-proyek baru dari ekosistem bisnis grup, serta peningkatan tata kelola perusahaan adalah beberapa ekspektasi positif yang muncul dari aksi korporasi ini.
Penutup
Akuisisi PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) oleh Tjokro Group bukan sekadar transaksi jual-beli saham biasa. Ini adalah sebuah langkah strategis yang menandai pergeseran kekuatan dan arah baru bagi GPSO. Dimulainya penjualan saham oleh pendiri, Karnadi Margaka, menjadi penanda transisi kepemimpinan yang akan segera terealisasi.
Bagi para pemangku kepentingan, termasuk investor dan pelaku pasar, momen ini patut dicermati. Proses tender wajib yang akan datang menjadi agenda penting berikutnya, sementara potensi sinergi jangka panjang antara Tjokro Group dan GPSO akan menjadi penentu utama apakah akuisisi ini mampu membawa nilai tambah yang signifikan dan melambungkan kinerja perusahaan ke level selanjutnya. Era baru bagi GPSO telah resmi dimulai.
Disclaimer: Artikel ini bertujuan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.









